Sumbar DK – Program pemberian Makanan Tambahan (PMT)berbahan pangan lokal yang bertujuan untuk memenuhi dan meningkatkan tumbuh kembangnya belita dan ibu hamil,beserta lansia telah mulai dilaksanakan hampir di seluruh Puskesmas yang ada dipelosok negri ini.
Adapun sasaran pemerintah melaksanakan Program PMT, berbahan pangan lokal adalah memberikan makanan tambahan kepada ibu hamil kurang energi kronit (KEK)dan balita gizi kurang menggunakan bahan pangan lokal,serta lansia,
Program yang dilakukan oleh Kementrian Kesehatan (Kemenkes)ini bertujuan untuk meningkatkan status gizi dan menurunkan angka stunting,Manfaat program ini adalah meningkatkan status gizi ,menurunkan angka stunting,mendorong kemandirian keluarga dalam penyediaan pangan bergizi.
Program ini disalurkan melalui seluruh Puskesmas di Indonesia,terkecuali Puskesmas Batu Bajanjang Kecamatan Tigo Lurah Kabupaten Solok,Sumatera Barat.
Program yang dimulai sejak awal tahun 2024,artinya sudah setahun sejak program ini diterapkan,namun pelaksanaannya sangat jauh dari yang diharapkan.Dihimpun dari berbagai sumber informasi dilapangan,bahwa program PMT di Kabupaten Solok kususnya Puskesmas Batu Bajanjang,Kecamatan Tigo Lurah,Kabupaten Solok,Sumatera Barat,ini terkesan asal asalan.
Dan dapat di duga ada permainan baik penyediaan gizi maupun SPJ yang di Mark up oleh oknum Kapus( kepala puskesmas)yang berinisial BS,dan di duga dilindungi oleh oknum Dinas Kesehatan Kabupaten Solok,masak anggaran Rp 16,500/orang hanya di berikan satu potong bakwan/risoles,itupun dibuat di rumah kapus(kepala puskesmas),kan ga masuk akal.
SPJ yang diberikan kepetugas Rp 2.250,000,namun yang diterima cuma Rp 810,000,yang sengaja di transfer agar ada bukti,sedangkan sisanya diminta kembali oleh oknum Kapus,ujar sumber yang tidak mau disebutkan identitasnya.Dan anehnya setelah masalah ini viral di lingkungan masyarakat setempat,Kapusnya hilang bak ditelan bumi,ada apa…? dan terkesan dilindungi oleh Kadis,”ujarnya.
Menurut keterangan dari beberapa masyarakat PMT diberikan tidak sesuai aturan belita yang dapat sembilan puluh hari(90 hari)hanya mendapatkan empat kali(4 kali)ada juga yang sepuluh kali(10 kali) makanan yang diberikan juga tidak sesuai disisi lain waktu pun dimainkan oleh Bu kapus.
Demi perimbangan berita,tim langsung adakan konfirmasi ke Kapus,Namum sampai berita ini diterbitkan,tidak ada tanggapan dari yang bersangkutan,seolah bungkam!
Menindak lanjuti temuan ini,maka pada Hari Jumat 16/05/25,kami tim awak media menemui Kadis Kesehatan Kabupaten Solok Zulhendri.SK,M,M.K.E.S,
dikantornya Kompleks Kantor Bupati Solok,namun beliau tidaklah berada ditempat.
Ketika tim kami mencoba menghubungi beliau melalui via whatshApp,beliau mengatakan sedang berada di Kota Solok,dan akhirnya kamipun beranjak ke kota Solok,dan bertemu di sebuah rumah makan ternama di kota ini.
Selanjutnya setelah makan siang,kami ajukan beberapa pertanyaan terkait masalah PMT ini,Kadis seolah mengelak dan menjawab tidak tahu permasalahan ini,saya justru tahu masalah ini setelah diberitahu oleh seorang dari tim kami yang juga hadir saat pertemuan ini.
Masalah ini sedang dilakukan pemeriksaan oleh Exspektorat,sampai saat ini masih berjalan,dan saya belum dapat laporan sampai dimana proses yang dilakukan oleh tim Exspektorat,karena bukan ranah saya,Namun ibu Wakil Bupati ( istri bupati red.)sudah tahu persoalan ini,dan saya satu rupiah pun tidak ada makan uang ini,ungkapnya dengan nada sedikit kesal dan sempat pukul meja,sangat aneh seorang Kadis tidak tahu permasalahan yang terjadi pada bawahannya.
Dan lebih aneh lagi saat pembicaraan di mulai,tim kami sempat bertanya yang duduk sebelah bapak siapa…? karena beliau datang berdua,dengan enteng Kadis menjawab,ini Kabag umum saya.Namum dari gelagatnya kami kurang yakin,setelah pertemuan kami coba telusuri ke kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Solok dan ke Exspektorat.
Disitu kami bertemu dengan salah seorang pegawai,dan kami coba bertanya sambil memperlihatkan poto orang yang duduk di samping Kadis, ternyata pegawai tersebut menjawab,ini bukan Kabag Umum pak..ini sopir Pak Kadis,”ungkapnya.
Dari sini kami makin curiga seolah ada yang ditutupi oleh Kadis.Yang benar aja pak Kadis ini sopir kok dibilang Kabag Umum,melakukan pembohongan publik dan memberikan memberikan keterangan yang tidak benar.Ungkap salah seorang team kami.
Entahlah apa yang terjadi di Kabupaten Solok terkait program ini,yang seharusnya dinikmati oleh masyarakat,namun malah dijadikan ladang untuk memperkaya diri oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.(Team Red..**)



